Lampion : Bongkar Pasang Personel, Ramadan Luncurkan Album Kedua

Tak mudah menjadi konsisten dalam bermusik di tanah air. Apalagi jika berkaitan dengan persoalan kebutuhan pasar. Bagaiman grup Lampion mempertahankan kekhasannya itu? GAYA bermusik sering identik dengan idealisme dan rasa. Pantasnya memang tak perlu berubah-ubah, jika gaya bermusik menjadi identitas. Tapi desakan pasar mampu menyulap idealisme dan rasa itu. Grup Lampion pun tak bisa mudah berjuang mempertahankan karakternya. Dengan gaya oriental plus iramanya yang juga Tionghoa, kadang kala jadi hambatan. Apalagi penggemar musik nasyid masih terbatas.

”Ya..kalau ditanya soal karakter, inilah karakter kami. Tak mudah memang bertahan. Tapi kami berusaha menjaganya,” terang Andrew Irfan Tanudjaja, anggota Lampion. Menurutnya kesulitan terasa dalam persoalan gaya musik oriental. Sebab belum ada contoh musik nasyid yang berwarna Mandarin. Itu membuat pengembangan polanya pun sedikit terbatas. Andrew menilai kesulitan itu menjadi tantangan tersendiri bagi Lampion. Agar tetap bisa konsisten dalam warna bermusik.

Menjaga pola musik oriental yang tidak ketinggalan zaman. ”Di kalangan generasi Tionghoa di Indonesia, musik oriental tak begitu digemari. Apalagi jika membawakan dalam nuansa Islam berpadu gaya oriental. Jelas tak mudah,” tutur vokalis bertubuh besar ini. Apalagi, lanjut dia juga, terkadang ada kesulitan dalam memainkan warna musik oriental dalam nuansa Islam. Karena perlu menyesuaikan dengan liriknya. Belum lagi pola suaranya lebih khas, tidak seperti bernyani dalam suara yang biasa. ”Bernyanyi dengan musik oriental itu tak mudah. Sekarang kita coba padukan semua itu dalam karakter yang Islami.

Coba bagaimana kesulitannya,” tegasnya. Kendati demikian, Andrew bersama rekan lainnya selalu memiliki terobosan. Dengan memberikan sentuhan oriental dalam sejumlah bait lagu. Personel Lampion memang sudah berulang kali bongkar pasang. Alasannya sangat beragam. Namun setiap generasi baru Lampion selalu memiliki karakter sama. Adapun personel Lampion anyar adalah Kelvin Ikhwan Tanudjaja, Andrew Irfan Tanudjaja, Musthofa Timur, dan Heri Adz-. Mereka selalu menampilkan karakter Tionghoa dalam setiap penampilannya. ”Kita telah siapkan album kedua. Bergaya lebih oriental,” jelasnya. Album kedua ini, tambah dia lagi, diharapkan dapat selesai pada Agustus 2011. Bersamaan dengan datangnya bulan puasa 2011 ini. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: